Isnin, 7 Mei 2012
Ahad, 29 Januari 2012
perasaan haty ku
Aku takkan lelah menunggu
Hingga waktu ajal menjemputku
Takkan pernah ada sesalku untuk menunggumu
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap menunggumu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku sampai mati
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap akan tetap menunggumu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku sampai mati
Hingga waktu ajal menjemputku
Takkan pernah ada sesalku untuk menunggumu
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap menunggumu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku sampai mati
Aku harus tetap menunggu
Hingga nanti aku berbaring
Sampai mati aku akan tetap akan tetap menunggumu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ingin ku gapai bulan dan ku petik bintang
Ingin ku berikan semua hanya untukmu
Agar kau tahu besarnya cintaku kepada dirimu
Ku ingin kau tahu tentang perasaanku
Ku ingin kau tahu besar cinta padamu
Ingin ku berikan sisa waktuku
Dan sisa umurku sampai mati
Rabu, 21 Disember 2011
Selasa, 13 Disember 2011
salah paham
pade 13.12.2011 hari selase aq bermain futsal aq terpijak bola aq tejatoh terkene abg sedare aq mate aq kene besi abg sedare aq sangke aq tolak die die tumbok aq 8 das tp x pe x sakit pon cume benkak je ha9...mate aq yg kene besi pon x sakit tp luke besa klu bawak ke klinik mate aq blh kene 5 jahitan tp aq mls nk pegi... sbb klu aq pgi jahit mte aq nnt dh x cantik lebih baik aq biokan ha8... tu semua pekare biase aq dh biase ha8... pic yg atas cume mate aq yg nampak benkak n luke nye... yg kesan abg sedare aq tumbok dh x de cepat kn semboh biase lh org kuat hu3... yg penting aq x nangis ha8... pekare tu dh setell die pon dh mintak maaf hu4.....
Sabtu, 3 September 2011
Kereta “Pakuan Ekspres” terus melaju membawa ratusan tubuh bernyawa
menuju Jakarta. Pagi itu. Saya memutar mata melihat bangku kosong. Uph! Ada! Dua lagi. Saya bersyukur. Saya gerakkan tubuh segera. Tapi, jiaaaaaahhhhh… keduluan! Dua tubuh perempuan berkerudungbergerak ke arah yang sama. Lebih cepat. Terpaksa saya harus gigit jari.
menuju Jakarta. Pagi itu. Saya memutar mata melihat bangku kosong. Uph! Ada! Dua lagi. Saya bersyukur. Saya gerakkan tubuh segera. Tapi, jiaaaaaahhhhh… keduluan! Dua tubuh perempuan berkerudungbergerak ke arah yang sama. Lebih cepat. Terpaksa saya harus gigit jari.
Berdiri! Saya hanya bisa berpegangan pada tali yang terjulur di atas kepala. Tak apa. Tapi, wow!!! Telinga saya seolah bergerak menangkap suara-suara lirih dua perempuan berkerudung yang tadi “merebut” kursi saya. Saya bahkan tersenyum dalam hati saat menangkap percakapan mereka. Lucu dan asyik.
“Benar! Aku tak bisa melupakan dia. Setiap saat dia datang dalam mimpiku. Wajahnya, perawakannya, candanya. Semuanya. Aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak pernah menyatukan aku dengannya. Tuhan malah menyatukan aku dengan yang lain….”
Suara perempuan berkerudung putih. Wajahnya sendu. Seperti menampakkan beban yang maha berat. Uniknya, temannya yang berkerudung biru malah terkekeh habis. Cekikikan. Tangannya menutupi mulutnya yang takut terbuka.
“Kamu kira aku bercanda?!”
Perempuan yang berkerudung putih marah. Suaranya mengeras. Ia tidak senang sepertinya saat suara hatinya ditertawakan orang lain, bahkan mungkin sahabatnya sendiri yang berkerudung biru itu. Ia seolah tak mau dirinya menjadi bahan olok-olokan dari masalah yang tengah dihadapi.
“Maaf… Maaf. Aku tidak bermaksud demikian. Benar, aku sama sekali tidak ingin mentertawakanmu. Sekali lagi aku minta maaf.”
Perempuan berkerudung biru merasa bersalah. Senyumannya yang terasa sedikit nyinyir hanyalah karena ia mungkin memang tak kuasa menahan tawa di hatinya mendengar curahan hati temannya. Lucu. Wong sudah menikah kok malah merindukan yang lain.
“Mungkin dari hatimu yang paling dalam sebenarnya kau tidak terlalu mencintai suamimu. Suamimu mungkin hanya sekadar pelarian agar pertanggungjawabanmu di hadapan Tuhan, orang tua, saudara menjadi terpenuhi?”
“Oh, tidak! Tidak! ” potong perempuan berkerudung putih.
” Aku sangat amat mencintainya. Dia seorang suami yang penuh pengertian bagiku. Ayah yang baik bagi anakku. Pria yang tulus bagi keluargaku. Dalam bayanganku dia adalah suami yang kerap kuimpikan selama ini.”
“Lalu, kenapa kamu begitu susah untuk melupakan kekasihmu yang dulu itu?”
“Itulah… Kenapa aku ingin cerita kepadamu. Karena aku butuh nasihatmu. Terus-terang aku tersiksa dengan hal ini.”
Perempuan berkerudung biru terdiam. Hatinya tercenung. Ia seperti tidak menyangka temannya yang terlihat begitu bahagia dengan suaminya itu ternyata menyimpan derita. Derita masa lalu yang tidak mampu ia kubur. Derita tentang cinta.
“Aku merasa berdosa terhadap semuanya. Aku seolah orang yang paling munafik di dunia ini. Aku telah menyimpan dua orang terkasih dalam satu hati.”
Perempuan berkerudung biru melihat rona merah di wajah temannya. Sembab. Seolah menahan diri dari tangis. Perempuan berkerudung biru itu ingin berkata banyak, tapi ia sendiri bingung apa yang mesti diungkapkannya. Sebab, ini masalah hati. Sebab, ini masalah perasaan. Sebab, ini masalah cinta.
“Hilangkan pikiran tentang kebaikannya. Munculkan keburukan-keburukannya. Moga ini dapat menghilangkan mantan kekasihmu itu dari hatimu….”
Perempuan berkerudung biru terbebas dari beban. Ia merasa senang telah memberikan jalan keluar yang -menurutnya- terbaik. Namun, ucapan selanjutnya dari perempuan berkerudung putih membuat perempuan berkerudung biru seolah tersedak.
“Itu semua sudah aku lakukan. Aku gagal…. Aku tetap tak bisa melupakannya. Ia seolah sebongkah es yang mengendap dalam hatiku.”
Diam. Senja di mata. Gambir. Kereta berhenti sesaat. Dua perempuan berkerudung itu keluar dan turun dari “Pakuan Ekspres”.
Saya tertawa ngakak dalam hati. Kok bisa ya? Ah, bisa dong! Segala kemungkinan bisa saja terjadi dalam hidup. Tapi, mendengar percakapan dua perempuan itu saya teringat kepada pernyataan seorang teman.
Kata teman saya itu, kesalahan terbesar yang sering dialami banyak perempuan dalam hidupnya adalah memutuskan hubungan cintanya pada lelaki yang sesungguhnya merupakan cinta sejatinya. Padahal, pemutusan itu kerap terjadi karena emosi sesaat. Namun, akibatnya perempuan itu gagal melupakan lelaki yang paling dicintainya itu seumur hidupnya. Wow!!!* * *
Langgan:
Catatan (Atom)
